"Berikanlah tanganmu untuk melayani dan hatimu untuk mencintai" by Ibu Teresa. Pada tahun 1990 KKIT-S (Kerabat Kerja Ibu Teresa Semarang) Gedangan dibentuk oleh Rm. Anton Mulder, SJ sebagai Pastor Kepala Paroki pada waktu itu. Atas gagasan Beliau kelompok kecil ini diberi nama Tim Lazarus karena Lazarus yang miskin, menderita, dibuang dan tidak diakui, ternyata di hadapan Tuhan dia diakui, dicintai, dia mempunyai kehidupan abadi, bahagia dan mempunyai “nama“.

Langkah pertama yang dilakukan Tim ini melakukan kunjungan-kunjungan ke kampung-kampung, Dari hasil kerja tersebut tim ini mempunyai 6 pasien yang lumpuh, tua yang perlu dirawat dan diperhatikan. Mereka tidak mempunyai keluarga, atau orang yang merawat, padahal mereka hanya seorang diri di rumahnya yang kecil dan sangat sederhana.

Tim Lazarus tidak bekerja sendiri dalam membuat rumah perawatan, Rm. Anton mengijinkan tim Lazarus masuk dalam PSE walaupun secara financial Tim akan berusaha sendiri supaya tidak membebani paroki dengan karya karitatif yang sangat konsumtif ini (saat pembicaraan untuk membuat sebuah rumah perawatan dengan Rm J. Pujasumarta, Pr selaku moderator KKIT-Semarang saat itu diingatkan oleh beliau tentang hal ini). Selanjutnya Tim Lazarus ini bernaung dibawah Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) demi kemudahan pengurusan ijin.

Tahun 1992 Tim Lazarus mendapat sebuah rumah kontrakan di Jl. Padi Utara VIII / 23 yang dapat menampung 8 pasien. Segala perabotnya mendapatkan bantuan dari PIKA. Pada pesta St.Yusup 19 Maret 1992 rumah tersebut diberkati oleh Rm Leo Van Woerkens, SJ selaku pembimbing rohani dan oleh Dr. H. Hendarwin selaku dokter Tim Lazarus, termpat ini diberi nama WISMA RELA BHAKTI, agar mereka yang terlibat dirumah ini sungguh-sungguh rela untuk membhaktikan diri kepada sesama yang memerlukan uluran tangan.

Tahun 1994 Tim Lazarus mendapatkan rumah dengan harga murah di jalan Padi Utara VII / 114 perumahan Genuk Indah yang dapat menampung 11 pasien yang dilayani oleh 5 orang perawat. Karena tempat terbatas dan yang dirawat melebihi kapasitas tempat yaitu 13 orang, Dalam perkembangan selanjutnya tahun 2004 atas prakarsa Rm P. Suradibrata SJ diusulkan kepada Tim Lazarus untuk membeli rumah disebelah utara Wisma supaya mempunyai cukup ruang untuk berjemur nenek-nenek, serta sirkulasi udara dalam rumah menjadi lebih baik. Beliau membuatkan surat permohonan bantuan ke Keuskupan Agung Semarang, Kevikepan Semarang serta Delsos KAS sehingga dana untuk membeli rumah tersebut tercukupi.

Tahun 2010 Wisma Rela Bhakti di Jl Padi Utara ditinggikan dan direnovasi karena letaknya lebih rendah dari jalan, sehingga diwaktu hujan turun kemasukan air, waktu itu penghuni wisma dipindah sementara ke Jl Ronggowarsito menempati bangunan milik ex Gedung Novisiat OSF yang kosong, hingga awal Februari 2011, oleh Sr. M. Theresiani, OSF, selaku Piko Gedangan, diusulkan agar Rela Bhakti tetap menempati gedung ex Novisiat tersebut, walau rumah di Genuk sudah jadi.

Tanggal 15 Juni 2011 rumah baru di Genuk diberkati oleh Mgr. J. Pujasumarta, mulai saat itu Wisma Rela Bhakti mempunyai 2 rumah penampungan. Pasien sebagian besar tetap di Gedangan, sedang yang di Genuk menampung pasien baru. Masing-masing rumah menampung 17 pasien dengan 5 tenaga perawat. Untuk saat ini Wisma Rela Bhakti di pimpin oleh Bapak Antonius Gunawan dan Dr. H Hendarwin selaku dokter Wisma Rela Bhakti. [Profil 2013]